Banyaknya masalah kepengirusan Koperasi Petani Sawit Makmur (Kopsa-M) dengan pengurus Kopsa-M periode 2016-2021 masih belum menemukan titik terang">
HOME
Minggu, 26 09 2021
Follow:
Kamis, 02/09/2021 - 10:30 WIB
Hasil Panen Kopsa Diduga Digelapkan
Kamis, 24/06/2021 - 19:30 WIB
Setelah Diaudit Ketua Kopsa-M Diduga Lakukan Berbagai Penyimpangan Terkait
Selasa, 06/04/2021 - 15:35 WIB
PT PSJ Diminta Bertanggung Jawab Terhadap 2 Koperasi Yang Terdampak Putusan MA
 


HUKUM KITA
Kamis, 24/06/2021 - 19:30 WIB
Setelah Diaudit Ketua Kopsa-M Diduga Lakukan Berbagai Penyimpangan Terkait
Selasa, 06/04/2021 - 15:35 WIB
PT PSJ Diminta Bertanggung Jawab Terhadap 2 Koperasi Yang Terdampak Putusan MA
Jumat, 19/03/2021 - 12:15 WIB
Mahkamah Agung Sebut Eksekusi Ribuan Hektar Kebun Sawit Gondai Tidak Sah
Minggu, 10/05/2020 - 11:50 WIB
Tiga Pelaku Curanmor Ditembak
 
Hasil Panen Kopsa Diduga Digelapkan

Reporter : Nauli
Kamis, 02/09/2021 - 10:30:59 WIB
PEKANBARU - Banyaknya masalah kepengirusan Koperasi Petani Sawit Makmur (Kopsa-M) dengan pengurus Kopsa-M periode 2016-2021 masih belum menemukan titik terang. Kali ini anggota mengklaim kembali temukan sejumlah dugaan penyimpangan yang dilakukan pengurus Kopsa-M yang diketahui A.

Kepada media, Irwansyah selaku salah satu anggota Kopda-M mengatakan bersama seluruh anggota dan pengurus Kopsa-M terpilih 2021-2026 menemukan sejumlah dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh pihak A. Diantaranya yakni dugaan penggelapan hasil panen kebun sawit milik Kopsa-M. 

Dugaan penggelapan tersebut dilakukan dengan cara, A diketahui mengalihkan PB Kopsa-M ke PB pihak ketiga yakni YHY yang dimiliki oleh RM salah seorang pemegang kontrak pembelian TBS di PKS SPA. 

"Jumat (27/08) kemarin, kita dihubungi oleh salah seorang anggota petani bahwa armada pengangkut TBS Kopsa-M dipaksa untuk menggunakan PB YHY oleh A, dengan alasan PTPN V tidak akan membayar upah pekerja dan bagi hasil petani," ujar Irwan Kamis (02/08)

Menurutnya, hal semacam itu sudah menjadi santapan harian telinga seluruh anggota Kopsa-M. Ia mengatakan A yang dikenal cukup mahir bersilat lidah lagi-lagi bahkan hingga mengkambing hitamkan PTPN V dengan alasan mempersulit pencairan dana. Padahal hasil penjualan TBS dibayarkan langsung ke rekening bersama Kopsa-M setiap kali setelah TBS dibongkar di PKS SPA 

"Dia pada maret 2021 lalu juga mengaku terpaksa menggunakan PB pihak ketiga karena PTPN V tidak mau mencairkan dana hasil keuntungan transportasi sebesar Rp 1,2 miliar yang disimpan di rekening bersama untuk membeli excavator. Padahal dana tersebut tidak pernah diberitahukan kepada anggota, dan sejak 2017 keuntungan tersebut tidak pernah dibagikan kepada anggota sebagai SHU," tuturnya.

Sementara itu, 11 Agustus 2021, AHz meminta pencairan dana penjualan TBS sebesar Rp725juta kepada PTPN V yang akan digunakannya untuk pembangunan barak tahap I sebesar Rp.250juta, beli pupuk 1.000 sak  Rp.400juta dan cicilan hutang Rp.75juta. Permintaan uang ini ditandatangani oleh HPS selaku Sekretaris tanpa melibatkan A dan AHW sebagai Bendahara. 

Permintaan itu pun dipandang Irwan tidak memenuhi mekanisme, karena tidak tersaji secara rinci. Dimana AHz tidak melampirkan RAB pembangunan barak yang menembus angka 250juta. Untuk permintaan pupuk juga tidak dilengkapi supply point dan peta rencana blok yang akan dipupuk. 

"Ia juga diduga pura pura baik dengan menambah cicilan  yang ingin disetor berjumlah 75juta yang biasanya hanya berkisar Rp1 juta hingga Rp25 juta perbulan. Dan yang paling lucu dia tidak mau menandatanganinya," terangnya.

Sementara, lantaran permintaan peminjaman uang itu tidak dikabulkan, A kembali mengirimkan permintaan pada tanggal 20 agustus 2021. Dimana dalam permintaan dana yang awalnya berjumlah Rp.725 juta menjadi Rp.925 juta karena ditambahkan item pinjaman pekerja sebesar Rp.200 juta tanpa adanya uraian nama pemohon pinjaman.

"Nafsu dia untuk mendapatkan dana tersebut terkesan membabi buta terbukti dengan dialihkan nya kembali PB KOPSA-M ke PB YHY karena di YHY dana bisa langsung cair dengan mudah, bahkan bisa pinjam uang dulu baru TBS masuk," paparnya.

Dari data hasil penelusuran pihaknya, terdapat data penerimaan TBS di PKS SPA sebanyak 33.420 Kg dengan hasil penjualan sebesar Rp.82.380.300 yang berhasil diperoleh AHz secara melawan hukum. Namun, Irwan mengaku masih belum dapat menghubungi pemilik PB YHY.

Malah beberapa hari belakangan tepatnya pada 28 Agustus 2021, AHz menjual TBS ke PKS BTR yang berada di Perhentian Raja. Karena alasan PTPN V tidak mengizinkan KOPSA-M menggunakan PB pihak ketiga. Kemudian Selasa tanggal 31 agustus 2021 diduga terjual produksi sebanyak 130 ton lebih atau sekitar Rp.300 juta. Penjualan ini diduga adalah ilegal dan penggelapan TBS petani Kopsa M.

"AHz dinilai telah melanggar MoU dengan PTPN V dan buah yg dijual dg PB orang lain diduga digelapkan sehingga anggota petani tidak lagi bisa memantau jumlah produksi berikut hasil penjualannya," paparnya.

Kemarin, Rabu (01/08/21) pihaknya telah mengamankan 1 unit truk berisi 8 ton TBS Kopsa-M yang akan dijual ke pabrik atau diduga digelapkan. Saat ini truk tersebut telah dititipkan di Polsek Pemberhentian Raja.

 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2020 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By www.riaukita.com