HOME
Selasa, 23 Juli 2019
Follow:
 
 
Mengintip Rumah Adat Suku Sakai di Bengkalis Riau

Reporter : Andre
Rabu, 20/01/2016 - 14:05:54 WIB
RIAUKITACOM - Suku Sakai adalah komunitas salah satu masyarakat adat tertua di Riau. Kini suku Sakai memiliki rumah adat permanen menggantikan rumah adat lama yang sudah hilang belasan tahun silam karena termakan usia.

Tepatnya, di RT 01, RW 03, Desa Kesumbo Ampai, Kecamatan Mandau, Bengkalis, Riau, di situlah dibangun rumah adat masyarakat. Jaraknya sekitar 170 km arah timur dari Pekanbaru yang menuju ke kota Dumai.

Rombongan media yang difasilitasi Sinarmas Group berkesempatan menengok peresmian rumah adat tersebut. Rumah adat ini berdiri di sebelah hutan belantara yang tersisa sekitar 300 hektare dari pemukiman penduduk Sakai yang jumlahnya 300 kepala keluarga. Di hamparan rumput hijau sekitar satu hektare di sanalah berdiri rumah adat mereka yang dibangun oleh PT Sinarmas Forestry di Riau.

Menjelang peresmian, masyarakat adat sudah menunggu tamu undangan. Para unsur pimpinan adat, mengenakan pakaian adat yang bercorak kuning, ada juga bewarna hitam. Alat musik tradisional menunggu di depan pintu gerbang.

Alat musiknya, tak jauh beda dengan musik kebanyakan suku adat yang ada di Indonesia. Ada gendang yang terbuat dari kulit hewan. Ada sedikit yang unik dari alat musiknya. Jika gamelan Jawa yang biasanya terbuat dari besi,namun Sakai justru terbuat dari kayu dengan ukuran panjang sekitar 40 cm. Ada 5 batang kayu berbentuk  segi empat diletakan di atas bantalan tali. Lantas kayu-kayu tersebu dipetik dengan pukulan kayu kecil yang mengeluarkan alunan musik.

Para penari dari pria mengenakan baju merah dan hitam menyambut para undangan. Kedatangan  Pejabat sementara (Pjs)  Bupati Bengkalis, Ahmad Syarofi dan rombongan disambut dengan tarian pencak silat ala Sakai.

Di komplek rumah ada ini, ada 4 bangunan permanen berbentuk panggung setinggi sekitar 2 meter dari permukaan tanah. Bangunan utama ada di bagian selatan komplek  sebagai rumah adat.  Bangunan utama luasnya 9 m x 11 m yang memiliki tiga ruangan. Pertama masuk ada teras teras, dengan ukran 4m x 9 m yang disebut ruangan Petapak Jatuh.

Selanjutnya ruangan utama yang sisi kanan kirinya ada ruangan kecil yang dihiasi pernak pernik kain warna warni. Ruangan utama ini disebut Gajah Monuhun. Bagian belakang sekali dapur yang disebut Gajah Monusu.

Rumah adat ini rangka utamanya sudah sedikit moderen. Rangka tak lagi terbuat dari kayu alam, tapi sudah diganti dengan kerangka besi baja berbentuk bulat seperti pipa. Dindingnya terbuat dari kayu. Lantai tak lagi terbuat dari rotan, tapi sudah berganti papan.

Di bagian timur, ada tempat bali kecil.  Sisi tegah ada ruangan terbuka tanpa dinding. Selanjutnya sisi barat ada balai yang juga tanpa dinding dengan ukuran 8m x 9m.

Dulunya, lokasi ini juga bagian rumah adat. Hanya saja, rumah adat mereka sudah termakan usia. Terakhir kali, rumah adat itu masih bisa dipakai pada tahun 2000 silam. Setelah itu, rumah adat yang masih alami dengan bahan bangunan kayu dan atap dedaunan  lapuk termakan usia. Kini rumah adat Sakai sudah menggunakan kontruksi besi dengan atap seng.

Pembangunan komplek rumah adat Sakai ini, memakan waktu sekitar 2 tahun dengan menelan dana Rp1 miliar. Rumah adat ini dinding berwarna coklat dengan warna kuning menghiasi anak tangga.

Di dalam rumah adat bangunan utama, di sana masih terpajang sejumlah alat-alat tradisional. Seperti masih ada tombak dengan panjang lebih 2 meter. Ada bubu untuk menjaring ikan. Ada juga sejumlah keris pusaka yang tersimpang di bejana kaca.

Di dindingnya masih terpampang foto lama rumah adat aslinya. Selain ada juga tulisan pantun yang dibingkai. Isi pantun dalam bahasa Sakai umumnya pantun nasihat untuk kehidupan.

"Bangunan rumah adat ini dibuat perusahaan Sinarmas, sebagai bentuk silahtuhrahmi dengan masyarakat Sakai," kata Direktur Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP)  Hasanudin The dalam sambuannya di lokasi komplek rumah Sakai, pada Selasa (19/01/2015).

Kepala Suku Sakai Bahtin 8, M Yatim mengatakan, pihaknya berterima kasih telah dibantu pembangunan rumah adat ini. Nantinya rumah adat ini akan dijadikan tempat pertemuan dan acara-acara keagamaan dan adat istiadat.

"Terima kasih buat Sinarmas yang memberikan fasilitas rumah adat bagi kami. Dengan demikian, generasi kami nantinya masih bisa mengenali bagaimana rumah adat yang dijadikan tempat musyawarah," kata Yatim.

Pejabat Bupati Bengkalis, Ahmad Syarofi, mengatakan, rumah adat Sakai akan bisa  menjadi daerah penelitian dari manapun. Bisa juga ini menjadi pariwista minat khusus.

"Sukai Sakai bukanlah suku terasing di Riau. Sekarang Sakai sudah maju, sudah bersekolah, bukan lagi suku terasing di Riau," tegas Syarofi.

Malah kata Syahrofi, sudah ada anak Sakai yang menjadi Camat yang memimpin di daerah lain.

"Kedepan kita harapkan ada ada yang jadi Bupati malah kala bisa menjadi Gubernur Riau," tutup Syahrofi.



 
.:: Home | Politik | Peristiwa | Ekbis | Lingkungan | Sport | Hukum | Kesehatan | Iptek | Foto | Galeri | Index ::.
Copyright 2011-2019 RiauKita.com, All Rights Reserved | Redaksi | Info Iklan | Disclaimer Reserved Powered By RiauKita.com